Aktivitas Ritmik

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan sebagai salah satu mata pelajaran yang harus dilaksanakan di sekolah, berkembang mengikuti dan sesuai dengan kurikulum pendidikan yang dikembangkan di Indonesia.

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan sebagai salah satu mata pelajaran yang harus dilaksanakan di sekolah, berkembang mengikuti dan sesuai dengan kurikulum pendidikan yang dikembangkan di Indonesia. Pengembangan kurikulum yang secara umum “katanya“ disesuaikan dengan perkembangan jaman dan melalui riset yang mendalam, membawa konsekuensi terjadinya perubahan-perubahan yang tidak hanya sekedar pada perubahan nama, melainkan juga pada tatanan kurikulum serta perangkat dan isi yang terkandung di dalamnya.

Perubahan nama pada setiap mata pelajaran termasuk di dalamnya “pendidikan jasmani” “pendidikan gerak” “gerak badan” “pendidikan olahraga” “olahraga pendidikan” “pendidikan olahraga dan kesehatan” “pendidikan jasmani dan olahraga” “pendidikan jasmani dan kesehatan” “pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan” atau apalah namanya, tentu berimplikasi pada perubahan substansi yang akan disajikan. Perihal yang seperti inilah yang terkadang terlewatkan, karena nyatanya perubahan nama mata pelajaran terutama pendidikan jasmani sering kali tidak terlebih dahulu menilik dan mendasarkan pada azas dan falsafah ilmu yang melandasinya. Jika kita berbicara mengenai mata pelajaran ini, maka dasar landasannya adalah ilmu keolahragaan yang salah satu mata kajiannya adalah “sosiokinetika” atau yang diartikan secara harfiah sebagai pendidikan jasmani (pohon ilmu keolahragaan, sebagai ilmu mandiri). Belum lagi berbicara mengenai potensi pendidik yang dimiliki negeri ini, yang menyangkut modal dasar yang diperoleh oleh calon guru pendidikan jasmani ketika menempuh pendidikan keguruan, serta sekian banyak sub sistem bagi terselenggarakannya pendidikan jasmani di sekolah secara ideal.
Kebijakan pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi yang dalam pelaksanaannya dapat disusun dan dikembangkan pada tingkat satuan pendidikan (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)), mata pelajaran pendidikan jasmani dengan pembatasan enam ruang lingkup pendidikan gerak dan satu pendidikan kesehatan, merupakan bukti betapa perubahan (mata pelajaran pendidikan jasmani) tidak memperhatikan keterbatasan potensi yang dimiliki oleh guru mata pelajaran ini di Indonesia. Salah satu contoh nyata adalah ketidakmungkinan seorang guru pendidkan jasmani memberikan informasi yang lengkap dan akurat mengenai penanggulangan bencana alam, kebakaran, HIV – Aids, hingga perilaku seks bebas pada remaja. Walaupun dengan alasan, bahwa tidak semua kompetensi dasar yang dituliskan harus dipenuhi, dan seiring berjalannya waktu, bagi guru diberikan “in service training” untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitasnya, tetapi pertanyaan yang muncul kemudian adalah “seberapa banyak dan cepat guru mampu memahami hal ini (memilih kompetensi dasar), dan seberapa banyak guru yang mendapat kesempatan untuk itu (pendidikan dan pelatihan dalam in service training)?”

Sebagai bagian dari pihak yang harus turut bertanggung jawab dalam meningkatkan kompetensi dan kualitas profesionalisme guru pendidikan jasmani di tanah air, penulis menyampaikan permasalahan di atas sebagai otokritik, sehingga semua pihak menyadari kenyataan yang ada, dan akhirnya berusaha bersama untuk mencari pemecahan masalah, atau paling tidak mengurangi permasalahan dan mencegah timbulnya permasalahan baru.

Kehadiran tulisan dalam bentuk cerita yang disajikan secara ringan ini, dimaksudkan untuk memberikan tambahan sumber informasi bagi guru terutama, serta siapapun yang memerlukannya tanpa harus merasa “digurui”, sehingga setidaknya dapat memenuhi keinginan untuk mengurangi permasalahan yang harus dihadapi oleh guru pendidikan jasmani atau pihak-pihak terkait lainnya.

Buku ini membahas tentang berbagai hal yang berhubungan dengan senam aerobik sebagai salah satu sub ruang lingkup aktivitas ritmik dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan, dalam KTSP, serta senam aerobik secara umum yang dapat dilakukan oleh siapapun. Bagian-bagian dalam buku ini terdiri dari cerita ringan mengenai masuknya senam aerobik sebagai salah satu aktivitas ritmik dalam mata pelajaran, apa dan bagaimana melakukan senam aerobik, bagaimana menyelengggarakan pembelajaran dan pelatihan senam aerobik, serta bagaimana melakukan penilaian senam aerobik baik dalam pembelajaran, pelatihan, maupun perlombaan.
 
Batas ketuntasan hasil belajar siswa ideal adalah 100%
Penentuan batas ketuntasan pada masing-masing mata pelajaran, serta masing-masing sekolah bisa saja berbeda
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah; kemampuan awal siswa, cakupan dan kompleksitas kompetensi, kebutuhan akan kompetensi dalam kehidupan nyata (kontekstual), serta potensi pendukung dan penghambat
Persentasi dari ketuntasan ideal dapat dihitung melalui;
  • berapa persen dari keseluruhan standar kompetensi,
  • berapa persen dari keseluruhan kompetensi dasar, atau
  • berapa persen dari keseluruhan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dalam satu kompetensi dasar oleh seluruh indikator yang harus diperlihatkan oleh siswa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)

Peran Pelatih Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Olahraga di Sekolah